Menemukan Kenikmatan Berislam

    

Image by: Freepik.com

    Sebagai seseorang yang selalu mempertanyakan sesuatu dari apa yang dilihat, didengar dan dirasakan, seringkali kebudayaan sosial, adat istiadat, norma2 sosial dan agama yang diterapkan di masyarakat  aku pertanyakan. Kenapa ya begini? kenapa bisa begitu? Kok kayak gini dianggap pelanggaran dan yang itu tidak? Mengapa melakukan ini dianggap tidak normal oleh orang2 sekitar? Pertanyaan itu sering muncul di kepala saat melihat dan mengetahui perbedaan.

    Indonesia yang sebagian besar masyarakatnya memeluk islam menjadikan kebudayaan dan norma-norma sosial yg diterapkan berlandaskan ajaran-ajaran islam. Aku yang terlahir di keluarga pemeluk Islam yang cukup taat, terpapar banyak pengetahuan agama sehingga menjalani banyak rutinitas atau kegiatan ritualis. Anehnya hal ini justru malah membuatku jauh dari rasa kehadiran tuhan, merasa ketidaknyamanan beragama, merasa ajaran islam mengekang, banyak aturan, mudah menghakimi, terbelakang, dan konotasi negatif lainnya. Seperti larangan minum dan makan berdiri. Sedari kecil kami sering ditegur untuk minum sambil duduk, alasannya karena ada hadist yang melarang minum sambil berdirilah atau karena tidak sopanlah, biar cantiklah, dll.    

    Diusia kami yang masih terlalu kecil, tentu kami butuh penjelasan lebih rasional atas pelarangan itu. Daya pikir kami yang terbatas membuat kami hanya bisa memahami nilai-nilai yang masuk akal dan terlihat oleh indera. Sayangnya, guru dan orang tua kami tidak mendapat jawaban memuaskan atas alasan dibuatnya aturan-aturan agama tersebut. Semuanya dijawab singkat dan irrasional. Coba pikir apa hubungan minum berdiri dengan kesopanan? Bagaimana bisa cara minum menjadi tolak ukur kesopanan? Dan yang lebih menyebalkan lagi jika dihakimi bahwa kami melanggar aturan agama dan berdosa. Kami yang masih kecil tentu belum mampu bernalar jauh bukan? Apa fungsi akal kami jika aturan hidup saja penjelasannya selalu irrasional?

    Sampai akhirnya pandemi corona melanda, banyak hoax bertebaran di masyarakat. Semuanya kebingungan dalam memilah informasi menjaga kesehatan diri, pun dengan aku dan keluarga. Kami berusaha menjaga kesehatan diri dengan membaca banyak artikel dan berita yang dilandasi kajian medis. Sampai pada suatu hari aku membaca satu artikel yang membahas rurinitas membaca al-qur'an dapat meningkatan saturasi/ kadar oksigen dalam darah. Yang tentu saja dampaknya akan baik bagi kesehatan jika kadar oksigen tubuh semakin tinggi.

    Dari situlah perlahan aku menyadari kehebatan ajaran Islam untuk kelangsungan hidup manusia. Merasakan betapa besarnya kasih sayang Allah terhadap kesejahteraan hidup hamba-Nya di dunia jika ia tahu dan taat terhadap ajaran-Nya. Tentu saja pengetahuan itu mengantarkan kepada rasa kehadiran Tuhan dan kenyamanan beragama.

    Perlahan aku mulai candu mempelajari ajaran-ajaran Islam yang diiringi dengan pengetahuan ilmiah dan kesejahteraan sosial. Tentu yang dipelajari di luar nilai-nilai ketuhanan yang bersifat irrasional. Karena dengan hal itu, aku langsung bisa merasakan manfaat beragama di dunia. Perihal pahala dan dosa, haram atau halal, aku yakin hal itu akan berbanding lurus dengan kemaslahatan makhluk-Nya. 

    Belajar satu ajaran agama, ketahui hukumnya, pelajari dasar ilmiah dan sosialnya, baru perbaiki pelan pelan perilakuku. Ternyata berislam hal yang menyenangkan. 

Komentar