Fenomena Jamurnya Penghafal al-Qur'an

   

Image by: Freepik.com

Menghafal al-Qur’an tentu hal yang baik dan mulia. Ada begitu banyak hadist yang mengutarakan keutamaan menghafal qur’an dan ganjaran bagi mereka kelak di akhirat. Dari keutamaan dan ganjaran yg akan diterima penghafal Qur’an, banyak muslim terobsesi mengikuti program menghafal qur’an, banyak pula orang tua yang memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan qur’an agar mereka juga menerima kemuliaan dari keturunannya yang menghafal Qur’an. Tentu tidak salah jika muslim berlomba-lomba dalam mencari kebaikan dari menghafal Qur’an, namun yang disayangkan jika proses menghafalnya tidak dibersamai dengan memahami tafsir qur'an dan juga pengamalan nilai-nilainya.


Di dalam pengantar buku Tafsir al-Misbah, Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa al-Qur’an mengecam orang2 yg tidak menggunakan akal dan kalbunya untuk berpikir dan menghayati pesan2 al-qur’an. Membaca al-qur’an tanpa meneliti dan mentadabburinya, dinilai telah terkunci hatinya. Perumpamaan mereka seperti keledai yg memikul buku2. Menghafal al-qur’an yang tidak disertai dengan meneliti dan mentadabburi ayat, maka ia hanya mendapat beban berat menanggung tanggung jawab, rasa letih mengerahkan waktu, tenaga dan pikiran, namun belum tentu meraih kebahagiaan pada kehidupannya.


Dewasa ini, lembaga pendidikan Qur'an tumbuh berjamur di Indonesia, baik lembaga formal ataupun non-formal. Diambil dari data kementrian agama RI, jumlah lembaga pendidikan Qur'an di Indonesia sudah mencapai 180.000 lembaga, mulai tingkat pendidikan anak usia dini (Paud) hingga universitas. Tak hanya lembaga pendidikan yang tumbuh subur, kegiatan penunjangnya juga ikut berkembang seperti lomba menghafal qur'an, beasiswa bagi penghafal qur'an. Dari suburnya pertumbuhan lembaga pendidikan Qur'an, Indonesia digadang menjadi negara penghafal qur'an terbanyak di dunia melebihi Arab Saudi yaitu 30.000 jiwa.


Dari data ini timbul pertanyaan, Apa dampak positif bagi kemajuan masyarakat Indonesia dengan hadirnya 30.000 penghafal al-qur'an? Mengapa angka kriminalitas, kemiskinan semakin tinggi, tingkat literasi masyarakat semakin rendah, kerusakan lingkungan semakin luas, fitnah dan adu domba terus merajalela? Apa peran para penghafal qur'an pada isu-isu sosial di negara kita?


Sepertinya memang benar pernyataan Prof. Quraish bahwa menghafal qur'an hanya akan menambah 1 eksemplar al-qur'an jika tidak dibarengi dengan memahami tafsirnya. Karena tujuan utama diturunkannya al-qur'an bukan untuk dihafal melainkan jadi pedoman hidup bagi tiap-tiap muslim yang mempelajarinya.

Komentar