Anak Bukan Perawat Gratis Masa Tua

Image by: Freepik.com

  Sering nggak sih mendengar pasangan suami-istri merencanakan kehadiran anak karena berharap kelak ia akan merawat mereka di masa tua nanti? Sering liat konten2 sosial media yang menunjukkan pengabdian seorang anak merawat ibu/bapaknya yg sakit terkapar tak berdaya di ranjang sehingga semua keperluannya disediakan oleh anak? Pernah baca berita seorang anak membunuh ayahnya karena lelah merawat beliau yang sakit? Atau pernah dengar curhatan seorang anak yang merawat orang tuanya bertahun- tahun sampai mengorbankan mimpi dan hidupnya?

    Sewaktu ramai membahas punya anak atau childfree di media sosial, aku iseng bertanya kepada seseorang apakah dia hendak punya anak atau tidak saat menikah nanti? Kemudian dia menjawab kalau dia ingin punya dua anak, dengan alasan biar rame di rumah dan saat tua anaknya bisa mengurus mereka satu- satu. Lalu aku tanya sudut pandangnya tentang childfree? Dia menjawab bahwa childfree adalah keputusan egois bagi pasangan yg tidak mau repot berumah tangga. 

    Tentu jawaban ini tidak bisa dipukul rata semua orang tua, namun banyak kasus yang terjadi seperti ini di Indonesia. Masalah kesehatan orang tua dan anak ini jadi renungan panjang buatku. Selalu bertanya-tanya apa iya anak wajib bertugas merawat orang tua saat mereka tua nanti? Mengapa orang tua berharap anak adalah perawat mereka kelak di masa tua? Apa karena balas jasa? Lalu mengapa tidak orang tuanya saja yang berubah memperbaiki pola hidupnya jadi lebih sehat sebelum mereka tua agar tidak membebani anaknya di masa mendatang? Jika seperti ini, bisakah kita balik bertanya pasangan mana yang egois? yang merencanakan anak utk merawatnya di masa tua atau yang childfree?   

    Dari pertanyaan2 yg muncul, aku mendapat kesimpulan bahwa memilih punya anak atau tidak, kewajiban menjaga diri adalah satu dari 5 tujuan bersyari'ah (maqashid as-syari'ah). Artinya menjaga diri dari marabahaya, kesengsaraan ataupun penyakit adalah fardhu 'ain bagi setiap manusia. Bayangkan jika orang tua terkena penyakit seumur hidup seperti diabetes atau stroke, tentu dia membutuhkan perawatan penyakit yang panjang sehingga mebutuhkan biaya yang sangat besar. Untuk menghemat pengeluaran maka ia akan bergantung dengan anak/ orang lain dalam memenuhi kebutuhan sehari2nya. Akhirnya kesengsaraan berpenyakit akan muncul baik pada penderita maupun pada orang sekitarnya.

    Sebenarnya tingginya literasi akan menyadarkan manusia menerapkan pola hidup sehat & mampu mengontrol nafsu makan. Bahkan jika kita seksama menelaah al-Qur'an, kata halal selalu bersanding dengan thayyib (baik), karena halal saja tidak cukup, ia perlu juga thayyib (baik) oleh tubuh untuk menjaga tubuh yang telah diberi Allah. Begitu pula dengan merencakan anak, sebelum menghadirkan anak, orang tua harus banyak belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik yang tidak membebani kehidupan anak kelak. Hadirnya anak bukan sebagai perawat gratis masa tua. Ia punya hak untuk memilih kehidupannya. Perintah berprilaku baik terhadap orang tua dalam al-Qur'an bukan berarti semena-mena meminta anak mengurus mereka saat tua. Sebelum menjalankan program hamil, pastikan orang tua sudah menerapkan pola hidup sehat dan mematangkan kondisi finansial agar tidak terlalu banting tulang hingga mengorbankan kondisi tubuh mereka.

    Kesimpulan pemikiran inilah yang akhirnya mendorongku untuk konsisten berolahraga, banyak bergerak, menambah pengetahuan kesehatan dan mengontrol makanan. Semoga ini menjadi ikhtiar diri saat memilih merencanakan kehadiran anak di masa depan. 

Komentar