Mengenal Kompos dan Jenisnya

Image by: Freepik.com

Kompos dan Sejarahnya

    Kompos adalah hasil penguraian dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik. Ketika kompos terurai dengan baik, ia dapat membenahi kondisi tanah. Lalu jika tanah subur, tanaman tumbuh sehat karena tercukupinya unsur hara yang diperlukan meski tanpa/sedikit bantuan manusia. Selain itu, mengompos menjadi solusi terbaik saat ini dalam mengelola sampah organik karena mampu mengurangi penumpukan sampah di TPA dan dapat memperbaiki ekosistem alam, juga belum ditemukannya dampak negatif dari aktivitas mengompos.

        Di Indonesia, kebiasaan mengompos ini ternyata sudah terjadi sejak 500 tahun yang lalu, di mana nenek moyang kita selalu membuang sisa makanan berupa sayuran, kulit buah, tulang dan lain-lain di tempat mereka bercocok tanam. Mereka menumpuk terus-menerus hinga tanpa sengaja tanaman yang tumbuh di area tersebut menjadi lebih subur. Dari situlah, nenek moyang kita akhirnya menekuni kebiasaan mengompos untuk bertani dan berkebun.

Jenis-jenis pupuk kompos

    Kompos terdiri dari beberapa jenis dilihat dari tiga aspek. Pertama, dilihat dari proses pembuatannya:

  • Kompos Aerob. Hasil pengomposan yang membutuhkan oksigen dalam proses penguraian bahan organik. Dengan bantuan oksigen akan meminimalisir bau dan proses penguraian menjadi lebih cepat

  • Kompos Anaerob. Hasil pengomposan kedap udara selama proses penguraian. Selama masa dekomposisi, ia akan mengeluarkan aroma seperti tape dan proses penguraian cenderung lebih lama dari aerob

       Aspek kedua dilihat dari dekomposernya:

  • Kompos yang memanfaatkan mikroorganisme. Semua kompos pasti membutuhkan mikroorganisme dalam proses penguraian. Fungsinya sebagai pengurai yang mampu merombak bahan baku menjadi bahan yang mudah diserap oleh tanaman nantinya serta menekan pertumbuhan mikroba patogen sehingga mengurangi bau busuk. Jenis mikroorganisme yang berperan dominan dalam dekomposisi adalah bakteri dan jamur

  • Kompos yang memanfaatkan aktivitas makroorganisme. Untuk lebih mempercepat proses penguraian, biasanya selain menggandakan jumlah mikroorganisme, juga menghadirkan makroorganisme seperti cacing, semut dan rayap. Para pengelola kompos saat ini sudah banyak memanfaatkan maggot untuk mengompos dalam jumlah banyak.

    Aspek ketiga, dilihat dari bentuknya:

  • Kompos padat. Pembusukan/ dekomposisi sisa sayur akan menghasilkan kompos padat bertekstur seperti tanah dengan warna coklat kehitaman. Kompos padat dapat dimanfaatkan menjadi media tanam subur yang kaya unsur hara.

  • Kompos cair. Air lindi yang dihasilkan selama proses penguraian limbah organik dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik cair pada tanaman. Semprotkan pupuk cair yang telah dilarutkan di dalam air ke tanaman, maka tanaman akan tercukupi nutrisinya.

    Itu dia perkenalan singkat tentang kompos. Ingat! 60% sampah yang menumpuk di TPA adalah sampah organik. Semakin cepat kita mulai mengompos, semakin cepat pula kita mengurangi 60% sampah yang tertumpuk di TPA. Selamat mencoba! 😊👌


Komentar