Belajar dari novel Tere Liye "Serial Anak-Anak Mamak"

    

    Bagi pecinta Tere Liye, series novel ini pasti sudah lama dibaca. Novel yang menceritakan perjalanan hidup 4 anak mamak Nur dan pak Syahdan di kampung pedalaman Sumatera ini mengajarkan banyak ilmu parenting, bagaimana orang tua menyiapkan diri menjadi pendidik yang bijaksana, berwawasan luas, saling bekerja sama, dan mengatur keuangan rumah tangga dengan baik. Kondisi lingkungan yang dihadirkan untuk anak - anak kampung juga terjaga keberlanjutannya, warganya guyub, tetuahnya bijak. Dari kondisi inilah 4 anak mamak nur dan pak Syahdan meraih kesuksesan hidupnya. 

    Dari keseluruhan cerita anak mamak, bagian yang paling antusias aku baca saat mereka belajar hal baru tentang alam, petualangan bergilir ke dalam hutan dengan paman Unus, bertani padi karena insiden membuang makanan, penentangan tambang, tugas pembuatan herbarium, pembaharuan cara bertani kopi, dan masih banyak lagi. Cerita-cerita ini menjadi peringatan diri untuk hidup beradab pada alam, karena ia telah memberi banyak kehidupan bagi manusia, jadi sudah sepatutnya memeliharanya. Selain itu, alam selalu punya cara sendiri untuk menjaga keseimbangannya. Alam yang rusak, akan melahirkan "bencana" baru sebagai bentuk keseimbangannya. Seperti tragedi longsor akibat penambangan pasir sungai (di seri Eliana).

    Setelah membaca series novel ini, caraku melihat alam semakin luas. Alam bukan hanya sebuah objek, ia adalah subjek kehidupan. Alam selalu punya pilihan dalam mempertahankan kehidupannya, tak hanya manusia. Justru dengan berkembangnya ilmu pengetahuan manusia, alam semakin indah terjaga. Sayangnya, keserakahan, kebodohan dan keegoisan manusia alam menjadi rusak.

Komentar