Jimat Gaya Hidup Ramah Lingkungan
![]() |
| Image by: Freepik.com |
Setelah menyadari bahwa bumi kita sedang mengalami krisis iklim yang cukup ekstrim, pelan-pelan aku mulai memperbaiki gaya hidup menjadi lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Namun dalam proses memperbaiki gaya hidup, sering kali menemukan banyak hambatan, ribet nyiapin wadah sebelum belanja, nyisihin waktu pilah sampah, olah sampah jadi barang berguna, dan lain-lain. Supaya terus konsisten bertransformasi, aku mencari pegangan ajaran agama sebagai jimat. Harapannya ketika suatu waktu dihantui rasa malas, ajaran-ajaran agama menjadi alarm penyemangat untuk kembali istiqomah menjalaninya. Dan ini ayat-ayat jimatku dalam menyemangati diri sendiri menjaga lingkungan lewat gaya hidup baru:
1. al-Isra': 26-27
وَاٰتِ ذَا الۡقُرۡبٰى حَقَّهٗ وَالۡمِسۡكِيۡنَ وَابۡنَ السَّبِيۡلِ وَلَا تُبَذِّرۡ تَبۡذِيۡرًا( ٢٦) اِنَّ الۡمُبَذِّرِيۡنَ كَانُوۡۤا اِخۡوَانَ الشَّيٰطِيۡنِ ؕ وَكَانَ الشَّيۡطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوۡرًا (٢٧)
Larangan mubadzir. Sadar nggak sih kalo zaman modern saat ini, menjauhi perilaku mubadzir/ boros itu susah banget? Gimana enggak, kebiasaan menggunakan barang sekali pakai ini susah banget dihindari, beli makan dibungkus kertas plastik sekali pakai, beli minum dibungkus gelas plastik sekali pakai, belum lagi trend fashion yang cepat berubah dan trend mengoleksi barang berjamur di masyarakat.
Mubadzir jika diartikan ke bahasa Indonesia adalah boros/berlebih-lebihan, yaitu memberi bukan pada tempatnya atau memberi pada tempatnya tetapi melebihi kebutuhannya. Contohnya, membeli pakaian menjadi suatu kebutuhan penting jika memang tak ada baju yg bisa dipakai, namun menjadi mubadzir jika membeli pakaian hanya karena keinginan mengoleksi atau mengikuti trend.
Di ayat 27, orang-orang yang berperilaku mubadzir adalah saudara setan. Menurut prof. Quraish Shihab, saudara dalam bahasa al-qur'an adalah yg memiliki persamaan dengan kita. Aku dan kamu adalah saudara, sama-sama berbangsa Indonesia, aku dan kucing bersaudara, sama-sama makhluk Allah. Selama memiliki satu persamaan antara satu objek dengan objek lainnya artinya mereka adalah saudara. Lebih spesifik, Bahasa Indonesia menggunakan kata saudara yang diambil dari kata "Se-udara". Artinya, manusia dan setan sama-sama hidup di udara yang sama. Hanya saja, setan suka hidup di udara kotor karena mereka tinggal di tempat-tempat yang kotor. Manusia berpotensi hidup di udara yang kotor jika terus berlebih-lebihan menggunakan kendaraan bermotor, melakukan pembakaran untuk produksi sumber energi dan barang, pembakaran sampah ilegal, dan lain-lain. Jika aku terbiasa hidup di udara yang kotor, berpolusi, wahh jangan-jangan aku sudah bersaudara nih dengan setan! Na'udzubillah yaa!
Dari kandungan ayat ini, pelan-pelan aku belajar menahan diri agar tidak hidup konsumtif, latihan untuk mengkonsumsi barang sesuai kebutuhan agar tidak menghasilkan banyak sampah yang terbuang sia-sia di alam.
2. al-A'raf: 56
وَلَا تُفۡسِدُوۡا فِى الۡاَرۡضِ بَعۡدَ اِصۡلَاحِهَا وَادۡعُوۡهُ خَوۡفًا وَّطَمَعًا ؕ اِنَّ رَحۡمَتَ اللّٰهِ قَرِيۡبٌ مِّنَ الۡمُحۡسِنِيۡنَ (٥٦)
Alam raya telah diciptakan Allah swt. dalam keadaan yang harmonis, serasi dan memenuhi kebutuhan seluruh makhluk. Allah telah menjadikannya baik yang kemudian meminta hamba-hambaNya untuk ikut memperbaikinya.
Aku baru tau bahwa selama 4,5 miliar tahun, telah terjadi 5 kali kepunahan massal makhluk hidup di bumi akibat perubahan iklim, hujan meteor, letusan gunung, dll. Saat ini, bumi kembali mengalami perubahan iklim yang cukup ekstrim akibat perilaku manusia yang cenderung merusak. Perilaku konsumtif bisa ikut merusak bumi karena mengeksplotasi banyak sumber alam dan membuang banyak barang tak berguna untuk alam.
Mengambil pelajaran dari tragedi masa lalu, ini jadi bahan refleksiku bahwa segala tindakan yang dilakukan akan berdampak bagi bumi, baik merusak atau membaik. Karena itulah, ayat ini jadi pegangan perbaikan gaya hidupku, untuk pelan-pelan mengurangi kerusakan alam dari perilaku konsumtif dan abai lingkungan.
3. ar-Rum:41
ظَهَرَ الۡفَسَادُ فِى الۡبَرِّ وَالۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِى النَّاسِ لِيُذِيۡقَهُمۡ بَعۡضَ الَّذِىۡ عَمِلُوۡا لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُوۡنَ (٤١)
Banyak dari kita yang belum sadar bahwa banyak barang yang dikonsumsi oleh kita ternyata merusak sebagian besar lingkungan. Contoh kecilnya adalah detergent dari sabun cuci yang dipakai. Kandungan surfaktan pada detergent selain merusak kulit kita sendiri, juga merusak ekosistem air. Begitupun sampah yang kita tumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), tumpukan sampah-sampah yang tidak terpilah memicu ledakan dan sumber penyakit seperti yang baru saja terjadi di TPA Sarimukti, Bandung. Akhirnya manusia sendiri yang terkena dampak dari ulahnya, penduduk sekitar banyak terserang ISPA, pengolahan sampah jadi tertunda dan lahan penampungan sampah semakin luas.
Contoh kecil ini jadi peringatan diri sendiri, bahwa apa yang ditabur, itu yang akan dituai nanti. Kerusakan-kerusakan yang dibuat menghasilkan bencana yang terjadi di sekitar kita. Ayat ini menjadi bahan refleksi untuk berhati-hati dalam mengambil sikap. Terus diucapkan ke diri sendiri bahwa "Kerusakan yang ditabur hari ini, akan menuai bencana esok hari".
Banyaknya materi keagaaman yang harus dipelajari selama masa studi di sekolah-sekolah Islam, ayat-ayat lingkungan dan adabnya seringkali kurang mendapat perhatian. 10 tahun aku menempuh pendidikan pesantren dan perguruan tinggi Islam, tak pernah terpapar ajaran Islam terkait lingkungan secara mendalam. Tentu masih ada banyak ayat yang membahas tentang lingkungan, namun untuk saat ini 4 ayat ini yang masih menjadi peganganku untuk terus memperbaiki adabku terhadap alam semesta. Kalau teman-teman sendiri, apa ayat yang jadi pegangan teman-teman dalam bermu'amalah terhadap alam?

Komentar
Posting Komentar